Vinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.x

News & Updates

Inggris salurkan Rp 270 miliar untuk bantu Indonesia kembangkan energi terbarukan

Ego menjelaskan, penandatanganan MoU ini membentuk kerangka kerjasama antara Inggris dan Indonesia untuk berbagi pengetahuan teknis, keahlian dan teknologi dalam pengembangan energi rendah karbon.

Melalui kerjasama ini, lanjut Ego, Indonesia juga akan belajar dari Inggris yang bisa menurunkan secara signifikan porsi batubara dalam bauran energinya, dan beralih ke energi bersih. "Dalam kerjasama ini kita bisa lebih banyak belajar dari UK (United Kingdom) melalui bantuan dan proyek percontohan untuk memperkuat kita menuju target EBT" ungkap Ego.

Adapun, Indonesia sendiri menargetkan bisa mencapai 23% bauran EBT pada tahun 2025. Hingga kini, porsi EBT, khususnya dalam kelistrikan baru mencapai 13%.

Untuk mencapai target tersebut, Moazzam mengatakan bahwa Indonesia perlu mengakselerasi pemakaian EBT. Karenanya, pemerintah Inggris memberikan bantuan sebesar 15 juta poundsterling atau sekitar Rp. 270 miliar yang akan digunakan untuk proyek percontohan.

Moazzam belum menyebutkan secara detail proyek percontohan apa yang akan dikerjakan. Yang jelas, sambung Moazzam, bantuan ini akan berfokus pada pemanfaatan potensi EBT untuk kelistrikan, khususnya di wilayah Indonesia Timur.

"Fokus ke Indonesia Timur karena tujuannya tidak hanya untuk meningkatkan EBT tapi juga untuk mengurangi kemiskinan, dan untuk meningkatkan akses ke energi di daerah terpencil," terang Moazzam.

Sementara menurut Ego Syahrial, salah satu pilot project yang akan berlokasi di Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan mengembangkan potensi EBT yang ada di sana, seperti panas bumi.

Adapun, kerjasama ini akan terimplementasi sejak Juli 2019 dan berlaku selama empat tahun ke depan. Sebagai informasi, program yang akan dilaksanakan di bawah MoU ini merupakan bagian dari Prosperity Fund untuk Energi Terbarukan Indonesia dan Program Energi Rendah Karbon ASEAN (Green Finance).

Pendanaan Prosperity Fund Inggris ini difokuskan pada negara-negara berpenghasilan menengah dengan menganggarkan dana sebesar 1,2 miliar Poundsterling untuk enam tahun di seluruh portofolio proyek strategis.

Lebih lanjut, Moazzam melihat Indonesia memiliki potensi yang besar untuk pengembangan EBT dengan beraneka jenisnya, mulai dari angin, panas bumi, hingga surya. Namun, untuk bisa mencapai target bauran EBT, Indonesia membutuhkan sistem regulasi yang terbuka dan kondussif untuk investasi.

Menjawab hal itu, Ego Syahrial mengklaim bahwa dalam dua tahun terakhir, pemerintah telah menyusun kerangka regulasi yang membuat harga EBT semakin kompetitif. Sehingga, telah berhasil mengakselesai pengembangan EBT di tanah air.

"Pemerintah telah menyiapkan fondasi regulasi agar EBT harganya kompetitif, dan dalam dua tahu terakhir ini, progres EBT yang tadinya lambat, sekarang sudah keliatan," ujarnya.

Sebagai informasi, pada tahun ini Kementerian ESDM menargetkan investasi di sektor EBT sebesar US$ 1,79 miliar dengan rincian investasi di panas bumi sebesar US$ 1,23 miliar, bio energi US$ 0.051 miliar, aneka energi EBT US$ 0,511 miliar, dan konservasi energi US$ 0,007 miliar.

Adapun, pada tahun 2018, realisasi investasi EBT masih meleset dari target, yang hanya mencapai US$ 1,60 miliar atau 79,60% dari target yang dipatok diangka US$ 2.01 miliar.

© 2018 Indo Renergy Expo & Forum organised by PT Napindo Media ashatama. All Rights Reserved.

Please publish modules in offcanvas position.