News

Hidrogen Hijau Diprediksi Jadi Bisnis Masa Depan

Listrik Indonesia | Bisnis hidrogen diproyeksikan akan berkembang pesat seiring percepatan transisi energi menuju ekonomi rendah karbon. Peluang tersebut dinilai semakin terbuka karena hidrogen dipandang sebagai energy carrier yang mampu mendukung upaya dekarbonisasi di berbagai sektor, mulai dari pembangkit listrik hingga transportasi.

 

Chief Operating Officer Pasifik Gas Indonesia, Adryan Malindra, mengatakan Indonesia sebenarnya telah lama memanfaatkan hidrogen, meski masih didominasi grey hydrogen yang berasal dari gas alam. Sementara itu, pemanfaatan green hydrogen mulai diterapkan di sektor pembangkit listrik dan diyakini akan semakin luas dalam beberapa tahun ke depan.

 

“Prospek bisnis hidrogen sebenarnya akan sangat masif. Negara-negara yang lebih maju dalam transisi energi sudah menjadikan hidrogen hijau sebagai bagian penting dari sistem energi bersih,” ujar Adryan dalam siaran wawancranya, dikutip Rabu, (5/8/2026).

 

Menurutnya, green hydrogen yang diproduksi melalui proses elektrolisis air memiliki potensi besar menggantikan bahan bakar fosil, khususnya diesel pada sektor transportasi dan industri. Selain itu, hidrogen juga berpeluang menjadi alternatif pengganti sebagian penggunaan gas alam.

 

Meski prospeknya menjanjikan, pengembangan hidrogen hijau masih menghadapi sejumlah tantangan. Adryan menilai ketersediaan listrik berbiaya rendah menjadi faktor utama agar biaya produksi hidrogen tetap kompetitif. Di sisi lain, infrastruktur distribusi, baik melalui jaringan pipa maupun moda transportasi lainnya, juga perlu dipersiapkan.

 

Ia menambahkan, keberhasilan pengembangan hidrogen di berbagai negara tidak lepas dari dukungan kebijakan pemerintah. Regulasi yang jelas serta insentif menjadi pendorong utama terbentuknya ekosistem hidrogen.

 

“Di negara-negara maju, perkembangan hidrogen dalam lima tahun terakhir didorong sangat kuat oleh regulasi dan insentif pemerintah,” katanya.

 

Menurut Adryan, Indonesia mulai mengejar ketertinggalan dalam dua hingga tiga tahun terakhir. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai menyiapkan regulasi, sementara sejumlah badan usaha milik negara telah menjalankan berbagai proyek percontohan sebagai langkah awal membangun ekosistem hidrogen nasional.

 

Ia menilai berbagai proyek tersebut menjadi sinyal bahwa industri hidrogen memiliki masa depan yang cerah, meskipun implementasi secara luas masih membutuhkan waktu.

 

Di sektor transportasi, Adryan melihat hidrogen tidak akan menjadi pesaing kendaraan listrik berbasis baterai (electric vehicle/EV), melainkan pelengkap. Ia mencontohkan beberapa negara, seperti China, mulai mengombinasikan teknologi kendaraan listrik dengan hidrogen untuk memperpanjang jarak tempuh kendaraan.

 

“Hidrogen bukan kompetitor EV, tetapi menjadi pelengkap. Pemanfaatannya akan lebih cocok untuk kendaraan komersial, seperti truk menengah hingga truk berat,” ujarnya.

 

Ia juga mengungkapkan bahwa Indonesia sebenarnya telah memanfaatkan hidrogen hijau sejak dekade 1990-an, terutama sebagai pendingin di pembangkit listrik. Namun, kini perhatian terhadap hidrogen meningkat karena potensinya sebagai bahan bakar rendah emisi.

 

Selain itu, perkembangan teknologi turut memperkuat prospek bisnis hidrogen. Adryan mengatakan harga teknologi produksi hidrogen terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir berkat meningkatnya produksi massal, khususnya di China.

 

“Biaya teknologi terus turun. Dulu masih diproduksi secara terbatas, sekarang sudah memasuki tahap mass production sehingga harganya semakin kompetitif,” jelasnya.

 

Penurunan harga panel surya juga dinilai akan semakin menekan biaya produksi green hydrogen karena listrik dari pembangkit energi surya menjadi salah satu sumber energi utama dalam proses elektrolisis.

 

Ke depan, Adryan berharap pemerintah terus memperkuat regulasi, memberikan insentif, serta mempercepat pembangunan infrastruktur pendukung, termasuk penyediaan listrik murah dan stasiun pengisian hidrogen. Langkah tersebut diyakini akan mempercepat terbentuknya ekosistem hidrogen sekaligus mendukung target dekarbonisasi nasional.

 

Sumber: https://listrikindonesia.com/detail/20839/hidrogen-hijau-diprediksi-jadi-bisnis-masa-depan