Vinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.x

News & Updates

Target Pembangunan Pembangkit EBT Penuh Tantangan, Ini Alasannya

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menilai masih terdapat beberapa tantangan pengembangan pembangkit EBT.

Tantangan pertama adalah keekonomian EBT yang dinilai masih belum kompetitif dibandingkan dengan harga pembangkit berbahan bakar fosil.

"Harga EBT masih relatif lebih mahal dibandingkan pembangkit konvensional," kata Arifin pada acara daring PLN International Conference on Technology and Policy in Electric Power and Energy 2020, dikutip dari siaran pers, Kamis (24/9/2020).

Kedua, sifat pembangkit yang intermiten, seperti PLT surya dan PLT bayu sehingga memerlukan kesiapan sistem untuk menjaga kontinuitas pasokan tenaga listrik.

Sebaliknya, pembangkit EBT yang least cost (ongkos rendah) dan faktor kapasitasnya bagus, seperti PLT air, PLT minihidro, dan PLT panas bumi, umumnya terletak di daerah konservasi yang jauh dari pusat beban.Hal ini mengakibatkan dibutuhkan waktu relatif lama dalam pembangunan, mulai dari perizinan, kendala geografis, hingga keadaan kahar (longsor).

Terakhir, Arifin menyampaikan untuk bioenergi, pengembangan pembangkit biomassa maupun biogas memerlukan jaminan pasokan feedstock selama masa operasinya.

Ia meyakini Indonesia sebagai negara tropis sangat cocok dan punya potensi besar dalam mengembangkan EBT, terutama dari pemanfaatan energi matahari. Pasalnya, penyinaran energi surya tersebut di Indonesia lebih panjang dibandingkan negara lainnya.

"Sangat bisa [mengandalkan energi surya], karena negara tropis. Penyinaran matahari lebih panjang dari negara lain," ujar Arifin.

Sementara itu, Arifin tak menampik bahwa porsi batu bara dalam pemenuhan kebutuhan bauran pembangkit listrik masih tinggi.

"Realisasi bauran energi untuk tenaga listrik hingga Juni 2020 masih didominasi oleh batubara," ungkapnya.

Meski begitu, bauran pembangkit EBT terus mengalami peningkatan bahkan melebihi target yang sudah ditetapkan oleh pemerintah dalam Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2020. Pergerakan signifikan ditunjukkan oleh bauran dari pembangkit berbasis air dan panas bumi.

Untuk panas bumi telah mencapai 5,84 persen atau 2.131 gigawatt hour (GWh) dari target 4,94 persen (14,77 GWh).

Sebaliknya, realisasi air mencapai 8,04 persen atau 6.857 GWh dari target 6,23 persen (18,63 GWh), sedangkan untuk EBT lainnya realisasinya mencapai 3,24 GWh atau 0,29 persen, melebihi dari target yang ditetapkan yakni 1,01 GWh.

Adapun serapan bauran pembangkit gas mencapai 17,81 persen atau setara 175.119 British Billion Thermal Unit (BBTU), sedangkan serapan bauran pembangkit Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Bahan Bakar Nabati (BBN) mencapai 3,75 persen dengan rincian volume 0,86 juta kilo liter untuk BBM dan 0,29 juta kilo liter untuk BBN.

"Total realisasi produksi listrik sebesar 133.216 GWh," kata Arifin.

Sumber : https://ekonomi.bisnis.com/read/20200924/44/1295988/target-pembangunan-pembangkit-ebt-penuh-tantangan-ini-alasannya

© 2020 Indo Renergy Expo & Forum organised by PT Napindo Media ashatama. All Rights Reserved.

Please publish modules in offcanvas position.